TUGAS ESDH TIRTA
Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan Berastagi, Juni 2021
POTENSI DAN STRATEGI PENGEMBANGAN TAMAN HUTAN RAYA (TAHURA) NGURAH RAI SEBAGAI PRODUK EKOWISATA
Dosen Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.
Disusun Oleh:
|
Tirtayasa Br Karo 191201121 |
|
Hut 4C
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2021
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seiring pesatnya perkembangan kepariwisataan Bali sebagai daerah tujuan wisata mancanegara berdasarkan daya tarik, keindahan alam maupun seni budaya, dengan model wisata massal (mass tourism), mulai muncul paradigma dan keinginan pasar wisata dengan konsep lingkungan hidup dan kembali ke alam (back to nature), yang juga dikenal sebagai wisata alternatif (ekowisata) dalam dunia pariwisata. Model ini sebagai wujud keinginan untuk mengembangkan pariwisata berwawasan lingkungan, dikelola secara berkelanjutan, danbertanggung jawab, bersifat konservatif dan memberikan manfaat yang lebih besar pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat lokal (Christiani et al., 2014).
Salah satu sumberdaya alam Bali yang mempunyai potensi tinggi untuk mewujudkan model wisata berbasis alam, sebagai wisata alternatif, mengintegrasikan nilai-nilai konservasi, berkelanjutan, dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal, adalah Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai Bali.Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai merupakan kawasan hutan konservasi yangmana hutannya didominasi oleh vegetasi mangrove dari jenis prapat (Sonnerattia alba) sehingga dikenal sebagai kawasan hutan Prapat Benoa (Restu, 2008).
Permasalahan yang mendasar adalah masih kurangnya pemahaman para pemangku kepentingan (stakeholders) yang strategis di Provinsi Bali (pemerintah daerah, masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, dan kelompok swasta) mengenai besarnya potensi, beragamnya nilai yang tersimpan di kawasan Tahura Ngurah Rai, dan besarnya pengembangan untuk membangunan pariwisata alternatifserta kurangnya keseriusan, komitmen, dan keharmonisan semua pihak untuk melanjutkan, mengembangkan dan meningkatkan pengelolaan kawasan yang sudah terbangun yang selama ini diintegrasikan dalam manajemen Pusat Informasi Mangrove (Mangrove Information Centre) (Sukma, 2009)
Mangrove Information Centre (MIC) merupakan kegiatan penelitian dan pengembangan hutan mangrove Asia Tenggara yang berlokasi di Bali, kerjasama dengan JICA. Pengembangan pusat informasi mangrove adalah pembangunan model pemanfaatan kawasan secara berganda dengan membangun scenario keterpaduan antara pengembangan pengelolaan hutan mangrove berbasis konservasi,dan pengembangan model ekowisata berbasis potensi sumberdaya di hutan mangrove; dengan harapan bahwa pemasukan dari wisata mangrove bisa membiayai sendiri managemen MIC secara terpadu (incame generated), sehingga ketergantungan biaya dari donator (pemerintah, swasta, dan JICA) bisa dihilangkan (Christiani et al., 2014).
Dengan melihat potensi dari produk ekowisata yang ditawarkan Mangrove Information Centre, maka perlu informasi lebih representative dan spesifik mendalam mengenai potensi sumberdaya alam dan jasa lingkungan strategis yang berpeluang dijadikan aktraksi wisata untuk dikembangkan di Tahura Ngurah Rai Bali.Dilihat dari pemaparan di atas sangat perlu dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui potensi sumberdaya alam dan jasa lingkungan strategis serta dengan merumuskan strategi pengembangan kawasan Tahura Ngurah Rai khususnya kawasan sudah terbangun di mangrove information centre sebagai Produk Ekowisata. Dengan mengetahui potensi dan strategi pengembangan mangrove information centre sebagai produk ekowisata, diharapkan mahasiswa dapat mengetahui permasalahan yang dihadapi di Mangrove Information Centredan sebagai bahan informasi publik, untuk lebih meningkatkan kesadaran dalam menjaga lingkungan hidup dan memberikan informasi kepada berbagai stakeholders (masyarakat dan pihak pengelola wisata mangrove), tentang strategi pengembangan dan pengelolaan wisata mangrove sebagai model ekowisata (Christiani et al., 2014).
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui potensi pengembangan Taman Hutan Raya (TAHURA) Ngurah Rai sebagai produk ekowisata
2. Untuk mengetahui permasalahan pengembangan Taman Hutan Raya (TAHURA) Ngurah Rai
BAB II
ISI
2.1 Profil Taman Hutan Raya Ngurah Rai
Dilihat dari letak kawasan Tahura Ngurah Rai yang sangat strategis yang berada di pusat pertumbuhan bisnis dan pariwisata di Bali, yakni berada di tengah 3 kawasan wisata utama : Nusa Dua, Sanur, dan Kuta.Wilayah Taman Hutan Raya Ngurah RaiSecara administrasi pemerintahan, terletak di Teluk/Tanjung Benoa dan sekitarnya pada wilayah Kecamatan Kuta dan Kuta Selatan Kabupaten Badung seluas 627 Ha,dan Pulau Serangan Kecamatan Denpasar SelatanKota Denpasar seluas 746,50 Ha. Satu-satunya taman hutan raya yang ada di Provinsi Balia dalah Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai yang merupakan suatu kawasan bertipe hutan payau yang selalu tergenang air payau dan dipengaruhi oleh pasang surut. Dilihat dari vegetasinya, Tahura Ngurah Rai memiliki fungsi dalam mencegah abrasi yang mengancam Bali.
Kawasan Taman Hutan Raya Ngurah Rai ditetapkan sebagai hutan tutupan oleh Belanda pada tahun 1927, Kawasan Taman Hutan Raya Ngurah Rai telah mengalami beberapa kali perubahan status,sebelum menjadi Taman Hutan Raya (TAHURA) Ngurah Rai, berawal dari Kawasan Hutan Prapat Benoa (RTK. 10) seluas 1373,50 Ha dirubah fungsinya menjadi “Taman Wisata Alam Prapat Benoa suwung” (Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 885/Kpts-II/92, tanggal 8 September 1992. Posisi geografis kawasan Tahura Ngurah Rai, khususnya area Mangrove Information Center (MIC) sangat strstegis. Terutama pada level regional karena berada pada wilayah pusat pengembangan pariwisata terbesar di Bali atau berada di wilayah segitiga emas Bali yaitu Sanur, Kuta dan Nusa Dua.
2.2 Potensi Ekowisata
Lingkungan alam kawasan Tahura Ngurah Rai memiliki potensi keindahan alam dan keanekaragaman hayati berupa hutan Mangrove, hewan darat (jenis-jenis burung, binatang merayap, dll) dan hewan air (jenis-jenis ikan, moluska dan udang) sehingga kawasan ini akan menjadi sangat penting untuk dipertahankan secara ekologis dan dapat dimanfaatan sebagai wisata alam rekreasi, wisata pendidikan dan penelitian yang sangat berarti dalam pembangunan ekonomi. Kawasan ini memiliki kondisi tegakan mangrove yang beragam dan kaya akan larva biota air merupakan daerah yang luas untuk mendukung keberadaan burung sebagai tempat tinggal,bersarang dan tempat mencari makan terutama pada pagi hari sampai sianghari sehinggamerupakan atraksi wisata yang sangat menarik.Distribusi keberadaan sumberdaya hayati terutama burung dan ikan di Tahura Ngurah Rai tidak merata dimana sumberdaya tersebut merupakan daerah pilihan untuk pengembangan wisata pengamatan burung,memancing,pendidikan lingkungandan pelatihan.
Beberapa potensi wisata alam yang memungkinkan dapat dimanfaatkan adalah (1) rekreasi dan olah raga (Kayaking dan Canoying, Bird Watshing, Camping, Tracking, Hiking, Fishing), (2) Wisata Pendidikan dan Penelitian (Pengenalan EkosistemHutan Mangrove, Permainan di alam terbuka, Pengenalan Flora dan Fauna, Melacak satwa); (3) Wisata Kesehatan (Rehabilitasi, Terapi, Meditasi) ; (4) Pengembangan diri (Outword Bound, Peningkatan kemampuan profesi). Taman Hutan Raya Ngurah Raimemiliki potensi wisata tracking yang diminati oleh tamu baik dari manca negara maupun tamu domistikPotensi yang dimiliki oleh Taman Wisata Alam Prapat Benoa seperti:-adanya panorama alam yang indah dan akses yang baik untuk keperluan pariwisata dan rekreasi, -adanya flora dan fauna yang beragam tersebut maka kawasan Taman Wisata ini dikembangkan untuk koleksi tumbuhandan satwa baik alami maupun buatan untuk kebutuhan pendidikan, penelitian, -pariwisata, dan rekreasi.
Pemanfaatan kawasan Tahura Ngurah Rai sebagai objek pariwisata alam perlu adanya dukungan pemantapan kawasan pariwisata maupun kelembagaan yang sudah ada yang telah memanfaatkan kawasan untuk dapat terselenggaranya suatu pengelolaan kawasan yang baik.Sebagai kawasan wisata, Taman Hutan Raya Ngurah Raitelah memberikan eksternalitas positif bagi pemerintah daerah dan masyarakat sekitarnya. Selain itu secara tidak langsung pengembangan sektor wisata di Taman Hutan Raya Ngurah Raitelah mendukung pembangunan sektor lainnya Dengan adanya Keputusan Menteri Kehutanan No.107/Kpts-II/2003 yang mengamanatkan bahwa penyelenggaraan tugas pembantuan pengelolaan Taman Hutan Raya yangmeliputi pembangunan,pemeliharaan,pemanfaatan dan pengembangannya dilaksanakan oleh Gubernur. Selanjutnya berdasarkan Peraturan Daerah (PERDA) Provinsi Bali No.2 tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah, menetapkan organisasi Dinas Kehutanan Provinsi Bali yang terdiri dari Kepala Dinas, Sekretaris, 4 Bidang dan 4 UPT (Unit Pelaksana Teknis) diantaranya adalah UPT Taman Hutan Raya (TAHURA) Ngurah Rai.
2.3 Potensi Sosial Budaya
Ruang lingkup aspek social-budayadi sekitar Kawasan Pengembangan Tahura Ngurah Rai, terutama keberadaan tempat ibadah (tempat suci) dasar agama hindu dan adat istiadat. Di sekitar kawasan terdapat Pura Dalem Pemogan, kuburan dan Pura Candi Narmada Tanah Kilap serta Klenteng Tempat Ibadah Tri Dharma dan tempat suci umat Budha juga menyimpat sejarah tua yang mampu mengundang para wisatawan budha dan cina untuk berziarah dan berwisata ke kawasan tersebut.
2.4 Strategi Pengembangan Tahura Ngurah Rai sebagai Produk Ekowisata
Strategi pengembangan wisata alam (ekowisata) di Tahura Ngurah Rai dilakukan dengan pendekatan analisis SWOT, yaitu mengidentifikasi berbagai factor-faktor yang strategis secara sistematis untuk dapat memaksimalkan kekuatan (strength) dan peluang (opportunities),namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats), sehingga memenuhi segenap kriteria pembangunan pariwisata berkelanjutan.Berdasarkan hasil penelitian yang merupakan kekuatan (strength) dan peluang (opportunities), kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats), yang berhubungan erat dengan pengembangan produk ekowisata di kawasan Tahura Ngurah Rai
Strategi pengembangan pariwisata alam di kawasan Tahura Ngurah Rai yaitu: 1.Meningkatnya aksesibilitas ke kawasan dengan melakukan pembangunan, perbaikan sarana dan prasarana pokon pendukung pariwisata alam. 2.Meningkatkan pengelolaan kebersihan lingkungan kawasan, khususnya pengelolaan sampah. 3.Meningkatnya promosi pariwisata terpadu, baik domestik maupun mancanegara. 4.Mendayagunakan potensi wisata yang ada secara optimal bukan maksimal sesuai dengan daya dukung sumberdaya dan lingkungan. 5.Meningkatkan kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia lokal (local community)sehingga bisa terlibat dan berdaya di daerah sendiri.
2.5 Permasalahan Pengembangan Tahura Ngurah Rai
Hampir di kawasan Tahura Ngurah Rai banyak dijumpai sampah dengan diversitas dan kuantitas yang sangat mengkhawirkan, bahkan di beberapa tempat sudah menimbulkan bau busuk yang menyengat.Dalam pengelolaan pariwisata alam dibutuhkan sumber dayamanusia yang berkualitas tinggi, kualitas sumber daya manusia lokal, khususnya interpreter professional di bidang mangrove masih kurang Perebutan lahan di kawasan Tahura Ngurah Raidan lahan di sekitar kawasan untuk kepentingan yang tidak konservatif. Ketidakseimbangan pemanfaatan ruang dan lahan, cepat atau lambat merupakan ancaman bagi pariwisata alam itu sendiri.Kompetisi yang tidak sehat di dunia pariwisata, pelanggaran atau penjarahan lahan dan Kebijakan pemerintah Daerah yang tidak konsisten merupakan ancaman yang cukup serius bagi pengembangan Tahura Ngurah Rai.
BAB
III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
1. Tahura Ngurah Rai memiliki potensi yang meliputi bentang alam dan pemandangan, potensi keanekaragaman jenis mangrove dan potensi sosial-budaya.Pontensi bentang alam dan pemandangan hutan mangrove dan alur sungai berkiluk-kiluk yang menuju perairan Teluk Benoa.
2. Lingkungan alam kawasan Tahura Ngurah Rai memiliki potensi keindahan alam dan keanekaragaman hayati berupa hutan Mangrove, hewan darat (jenis-jenis burung, binatang merayap, dll) dan hewan air (jenis-jenis ikan, moluska dan udang) sehingga kawasan ini akan menjadi sangat penting untuk dipertahankan secara ekologis dan dapat dimanfaatan sebagai wisata alam.
3. Ruang lingkup aspek social-budayadi sekitar Kawasan Pengembangan Tahura Ngurah Rai, terutama keberadaan tempat ibadah (tempat suci) dasar agama hindu dan adat istiadat.
4. Strategi pengembangan wisata alam (ekowisata) di Tahura Ngurah Rai dilakukan dengan pendekatan analisis SWOT, yaitu mengidentifikasi berbagai factor-faktor yang strategis secara sistematis untuk dapat memaksimalkan kekuatan (strength) dan peluang (opportunities),namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats).
5. Pemanfaatan kawasan Tahura Ngurah Rai sebagai objek pariwisata alam perlu adanya dukungan pemantapan kawasan pariwisata maupun kelembagaan yang sudah ada yang telah memanfaatkan kawasan untuk dapat terselenggaranya suatu pengelolaan kawasan yang baik.
3.2 Saran
Sebaiknya mahasiswa mengambil referensi dari jurnal yang terpercaya, sehingga data atau informasi yang didapat lebih teruji kebenarannya dan mahasiswa juga harus mengetahui potensi Taman Hutan Raya Ngurah Rai.
DAFTAR PUSTAKA
Christiani BW, Adikampana IM. 2014. Potensi dan Strategi Pengembangan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai Sebagai Produk Ekowisata. Jurnal Destinasi Pariwisata, 2(1), 91-101.
Restu, Wayan. 2008. Pengembangan Pariwisata Alam Mangrove di Taman Hutan Raya Ngurah Rai.
Afnilian Devie. 2008. Strategi Bauran Pemasaran Produk Ekowisata Di Mangrove Information Centre. Denpasar. Program Studi D4 Pariwisata Universitas Udayana.
Sukma Arida, Nyoman. 2009.Meretas jalan Ekowisata Bali. Denpasar : Udayana University Press.
Wahyuni PI, Ardhana I, Sunarta IN. Evaluasi Pengembangan Ekowisata di Kawasan Tahura Ngurah Rai. ECOTROPHIC: Jurnal Ilmu Lingkungan (Journal of Environmental Science), 4(1).
Sangat informatif 👍
BalasHapus