TUGAS BISNIS KEHUTANAN
Paper Mata Kuliah
Bisnis Kehutanan Medan, Juni 2022
POTENSI BISNIS KEHUTANAN DI OBJEK WISATA
DELENG KUTU
Dosen Penanggung Jawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.
Disusun Oleh: Tirtayasa Br Karo 191201121
MNH 6
![]() |
DEPARTEMEN
MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2022
KATA
PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan
yang Maha Esa, karena berkat dan kasih karunia-Nya penulis dapat
menyelesaikan Paper Mata Kuliah Bisnis Kehutanan
ini dengan baik. Paper Mata Kuliah Bisnis Kehutanan yang berjudul “Potensi Bisnis Kehutanan di Objek Wisata Deleng Kutu” ini
dimaksudkan untuk memenuhi
tugas Mata Kuliah Bisnis Kehutanan
pada Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Dalam penyusunannya, penulis mengucapkan
terima kasih kepada Dosen Penanggung Jawab yaitu Dr. Agus Purwoko,
S.Hut., M.Si. yang telah memberikan dukungan, kasih, dan kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah,
semua kesuksesan ini berawal,
semoga semua ini dapat memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi.
Penulis menyadari bahwa Paper ini masih
jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik dari berbagai pihak dalam upaya
untuk memperbaiki isi Paper
ini akan sangat penulis hargai. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapapun yang
membacanya.
Medan, Juni
2022
Penulis
i
DAFTAR
ISI
Halaman
KATA PENGANTAR............................................................... i
DAFTAR ISI............................................................................. ii
1.1
Latar Belakang............................................................ 1
1.2
Rumusan Masalah....................................................... 2
1.3
Tujuan.......................................................................... 2
2.1
Deksripsi Objek Deleng Kutu..................................... 3
2.2
Daya Tarik Objek Wisata Deleng Kutu...................... 4
2.3
Ide Pengembangan Bisnis Objek Wisata Deleng Kutu 5
3.1 Kesimpulan.................................................................. 6
DAFTAR PUSTAKA
ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hutan sebagai sumberdaya alam merupakan sumber dari
berbagai barang dan jasa yang perlu dikelola secara optimal dan lestari untuk
menjaga eksistensinya. Untuk mewujudkan pengelolaan hutan yang dapat menjamin
fungsi hutan sebagai penyangga pembangunan berkelanjutan, maka pengelolaan
hutan harus diarahkan pada upayaupaya peningkatan pendapatan masyarakat,
perluasan kesempatan kerja dan berusaha serta peningkatan fungsi hutan untuk
kelestarian lingkungan. Sumberdaya alam tersebut dikelola secara terus menerus sebagai
usaha untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan rakyat harus
memperhatikan aspek lingkungan.
Dalam Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, pasal 8 disebutkan
bahwa: (1) pemerintah dapat menetapkan kawasan hutan tertentu untuk tujuan
khusus, (2) penetapan kawasan hutan dengan tujuan khusus dimaksud untuk
kepentingan umum, seperti: penelitian dan pengembangan, pendidikan dan latihan
serta keagamaan dan budaya. Kawasan hutan dengan kategori tersebut ditetapkan
oleh pemerintah sebagai hutan tetap, yaitu hutan yang keberadaannya terus
dipertahankan baik itu sebagai hutan lindung, atau hutan konservasi atau hutan
produksi. Pengelolaan sumberdaya alam yang hanya berorientasi ekonomi akan
membawa efek positif secara ekonomi tetapi menimbulkan efek negatif yang
buruk bagi kelangsungan kehidupan umat manusia.
Sektor pariwisata merupakan industri terbesar dalam memberikan kontribusi terhadap pembiayaan ekonomi global. Pariwisata merupakan industri yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam hal kesempatan kerja, pendapatan, taraf hidup serta dapat membangkitkan sektor industri lainnya.
Pariwisata berbasis alam adalah salah satu sektor industri pariwisata
yang tumbuh paling
cepat. Untuk menyesuaikan permintaan konsumen, maka kebutuhan untuk menyediakan atraksi wisata berbasis alam kepada pengunjung semakin
meningkat.
Ekowisata sebagai bagian dari konsep
pengembangan pariwisata telah mengalami kemajuan dengan semakin banyaknya
peminat jenis wisata yang berbasis pada kelestarian lingkungan. Dalam
pengembangan destinasi wisata alam didapatkan hubungan timbal balik yang saling
menguntungkan antara manusia sebagai mahkluk yang menikmati alam dalam
kegiatannya dengan alam yang terlestarikan secara baik. Ekowisata merupakan
kegiatan pariwisata yang diarahkan dapat memadukan pembangunan ekonomi
sekaligus dapat membangkitkan pendanaan untuk usahausaha pelestarian sumberdaya
sebagai atraksinya.
Untuk menuju ke arah ekowisata yang
berkelanjutan dan berbasis masyarakat, Would Wild Found (WWF) Internasional
(2001), dalam Guidelines for community-based ecotourism development ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai bahan pertimbangan dalam
pengembangan yaitu menyediakan kehidupan yang berkelanjutan untuk masyarakat
lokal, mendorong masyarakat secara langsung melakukan ekowisata, mendapatkan
keuntungan langsung dari pelestarian alam, produk yang dikembangkan harus
berdasarkan pengetahuan masyarakat, serta nilai dan kemampuan mereka, masyarakat
bisa menentukan budaya wisatawan yang perlu disaring.
1.2
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah
pada objek wisata
Deleng Kutu adalah sebagai berikut
1.
Bagaimana deskripsi objek wisata Deleng Kutu?
2.
Apa saja
daya Tarik yang ada di objek wisata Deleng
Kutu?
3.
Apa saja
ide pengembangan bisnis dari
objek wisata Deleng
Kutu?
1.3
Tujuan
Adapun tujuan pada objek wisata
Deleng Kutu adalah sebagai
berikut
1.
Untuk mengetahui deksripsi objek wisata
Deleng Kutu.
2.
Untuk mengetahui
daya tarik objek wisata
Deleng Kutu.
3. Untuk mengetahui apa saja ide pengembangan bisnis
objek wisata Deleng Kutu.
BAB
II ISI
2.1 Deksripsi Objek Deleng
Kutu
Deleng Kutu adalah sebuah gunung kecil
yang terdapat di Desa Guru Singa, Kabupaten Karo dan berbatasan dengan Lingga
Julu di sebelah utara, sisi barat Desa Kaban dan Berastagi di sisi selatan.
Bukit berhutan lebat ini sendiri memiliki ketinggian 1.400 mdpl. Deleng Kutu
mungkin tidak termasuk idolanya pendaki profesional. Selain namanya jarang
dikenal, ketinggian bukit yang hanya 1000-an meter pun bisa jadi alasan pertama
kenapa wisatawan enggan mengeksplor tempat tersebut.
Objek
wisata pertama di Deleng Kutu paling mudah diakses adalah gardu pandang yang
ditata sederhana. Setibanya di area ini, pemandangan 180 derajat ke arah 2 kota
terbesar di Kab. Karo dapat dilihat secara istimewa tanpa harus menggunakan
teropong. Kendati posisinya tidak terlalu tinggi, pemandangan sangat bagus dari
sudut lereng bukit ini, terutama saat langit sedang cerah. Nyaris semua yang ditawarkan alam bisa disaksikan. Mulai dari lahan
sawah sedang menguning hingga barisan rumah masyarakat di seberang terpantau
dengan jelas. Panorama 3 buah gunung di kejauhan juga ikut berperan sebagai
latar belakang bagi keindahan Bukit Kutu. Karena berada di zona aman, view
spektakuler Gn. Sinabung di baliknya dapat terjangkau oleh mata.
. Info terbarunya, objek wisata di Desa
Gurusinga tersebut kini mulai berbenah dan siap dijadikan sebagai tempat
berlibur. Meskipun belum rampung 80%, tetapi dengan ekosistem alami yang
dimiliki, pengunjung sudah bisa menemukan beberapa spot menarik yang dibangun
oleh warga. Kegiatan turisme di Deleng Kutu berfokus pada pemandangan alam yang
diselaraskan dengan spot berfoto. Tak sampai di situ saja, kawasan di kaki
bukit Desa Gurusinga tersebut juga turut diperindah dengan kebun agro dan bunga.

2.
Paket pendidikan
Pemandangan indah dari Deleng Kutu tentu menjadi
daya tarik utama dari wisata tersebut. Lanskap yang harmonis dengan lingkungan
alam sekitar membuat Bukit Kutu memiliki banyak keistimewaan. Demikian pula
spot untuk mengambil gambar, nyaris setiap titik di bukit ini memanjakan hasrat
pecinta fotografi luar ruangan.
Wisata Deleng Kutu ini dapat menjadi
tempat belajar untuk mengenal pohon, serta menjadi sekolah
alam untuk anak-
anak di Desa Gurusinga Kabupaten Karo

3.
Pendakian
Jika Anda tertarik dengan geologi,
melakukan pendakian ke puncak Deleng Kutu merupakan kegiatan terbaik untuk
menjelajah pemandangan hutan yang belum terjamah. Apalagi bukit yang menawarkan
jalur pendakian bagi pemula ini masih jarang didatangi. Pendakian 2 jam ini
akan menyenangkan. Karena Anda akan merasakan sensasi menerobos jalur yang
terkadang sudah tertutupi oleh rumput dan pohon liar. Medannya tidak berat,
tetapi kemiringan topografinya tak boleh dipandang sepele, selalu wajib
berhati-hati. Pilar di bagian puncak Deleng Sekutu menjadi pertanda bahwa
pendakian sudah sampai ke titik paling atas. Dari ketinggian Desa Gurusinga
ini, pemandangannya tak jauh berbeda dibanding yang ada di kaki bukit. Tapi
lebih luas dan syahdu. Walau tidak ada aura mistis, tetapi warga lokal sering
keluar-masuk hutan ini untuk mencari tumbuhan atau tanaman yang diolah lagi
untuk ramuan tradisional. Bila beruntung, Anda bisa berpapasan dengan mereka
selama mendaki.

2.3 Ide Pengembangan Bisnis
Objek Wisata Deleng Kutu
Keindahan
destinasi wisata baru, Deleng Kutu Desa Guru Singa Berastagi tak
kalah menariknya dengan destinasi wisata yang ada di Kabupaten Karo.
Bupati Terkelin Brahmana SH,menghimbau kepada agar segera di bangun sarana dan
prasarana pariwisata dengan memanfaatkan dana desa untuk menggaet
wisatawan melancong ke objek wisata yang diapit Kota Kabanjahe sebelah
Selatan dan Berastagi. Dalam membangun destinasi wisata Delen Kutu,Bupati
Karo menyarankan agar di kelola tiga desa yang berada disekitar Deleng
Kutu dan saling berkoordinasi membentuk badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan
dikelola dengan managemen yang baik serta menginstruksikan membuat pembatas
jalan ke bibir lembah untuk safety agar para pelancong nyaman,terutama seperti
wahana permainan seperti waterboom.
Hal itu dikatakan Bupati Karo Terkelin Brahmana SH, saat
mengunjungi objek wisata Deleng Kutu Desa Guru Singa bersama Camat Berastagi
Mirton Ketaren, Camat Kabanjahe Leonardus Surbakti, Kepala Desa Kaban, Kepala
Desa Guru Singa dan masyarakat setempat, “Untuk promosinya Pemkab Karo melalui
instansi terkait siap melakukan kerja sama dengan pihak swasta. Artinya, untuk
menggali potensi wisata, Pemkab Karo siap bekerja sama dengan pihak manapun
dalam arti positif, silakan undang ahlinya, konsultasikan bagaimana cara
membangun objek wisata dan mengelola managemen pariwisata yang
benar,” ujar Bupati Karo.
Menyikapi saran Bupati Karo Tekelin Brahmana SH untuk membenahai sarana dan
prasarana pariwisata Deleng Kutu, Kepala Desa Gurusinga Sutra Gurusinga dan
“Menyangkut pembenahan sarana dan prasarana objek wisata
Deleng Kutu dengan menggunakan Dana Desa, atas saran Bupati kami akan segera
berkoordinasi dengan Camat dan pihak DPMD. Begitu juga menyangkut administrasi
kepemilikan lahan Deleng Kutu , kami juga akan segera berkoordinasi dengan
masyarakat desa dan instansi terkait,” terangnya.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pariwisata merupakan industri yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi
yang cepat dalam hal kesempatan kerja, pendapatan, taraf hidup serta dapat membangkitkan sektor industri lainnya.
Deleng Kutu adalah
sebuah gunung kecil yang terdapat di Desa Guru Singa, Kabupaten Karo dan
berbatasan dengan Lingga Julu di sebelah utara, sisi barat Desa Kaban dan
Berastagi di sisi selatan. Bukit berhutan lebat ini sendiri memiliki ketinggian
1.400 mdpl. Pemandangan indah dari Deleng
Kutu tentu menjadi daya tarik
utama dari wisata tersebut. Lanskap yang harmonis dengan lingkungan alam
sekitar membuat Bukit Kutu memiliki banyak keistimewaan.
DAFTAR PUSTAKA
Sina L. 2005. Peluang Bisnis Bidang Kehutanan Bagi
pengusaha Daerah pada Otonomi Daerah
di Kalimantan Timur. Jurnal Risalah Hukum, 1(2): 15-20.
Hasan A. 2018. Studi Daya
Tarik Wisata Alam Hutan Mangrove Pantai Baros
Bantul, Hutan Mangrove
Wana Tirta Pantai Pasir Kadilangu, Hutan Mangrove Jembatan
Api-Api Temon Dan Kinerja Bisnis
Pariwisata. Jurnal Media Wisata, 16(2): 982-999.
Saputra E, Agus S. 2014.
Potensi Ekowisata Hutan Mangrove di Desa Merak
Belantung Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Selatan. Jurnal Sylva Lestari, 2(2):
49-60.
Berutu N, Meilinda SH, M
Ridha D, Ahmad H, Restu. 2018. Dukungan Informasi dan Promosi Ekowisata
Mangrove Belawan Sicanang
dalam Rangka Peningkatan Perekonomian Masyarakat. Jurnal Pemgabdian pada Masyarakat, 24(2): 853-858.
Maulida, H. F., Anggoro, S., Susilowati, I. 2012. Pengelolaan Wisata Alam
Air Panas Cangar di Kota Batu. Jurnal Ekosains , Vol IV No. 3.
11-18p.
Riyanto, Hamzari, Golar. 2014. Analisis
Pembangunan Ekowisata Di Kawasan Taman Hutan Raya Berbasis Sistem Informasi
Geografis. Jurnal Warta Rimba, 2(1): 153-163.

Komentar
Posting Komentar